fbpx
Trentech.id

Perjuangan Aplikasi Startup Lokal Melawan Aplikasi Buatan Luar di Indonesia

No ratings yet.

Sebagai pengguna Smartphone, tentu kita tahu bahwa kita bisa mengunduh berbagai macam aplikasi yang berbeda-beda. Baik Android maupun iOS, keduanya sama-sama memiliki jutaan aplikasi di dalamnya. Dari jutaan aplikasi tersebut, banyak aplikasi lokal yang bertebaran di berbagai kategori.

survey kelemahan apps Lokal
survey kelemahan apps Lokal dari dailysocial.id

Sayangnya, menurut survey yang dilakukan oleh Metro News, ketika user diharuskan untuk memilih antara aplikasi buatan dalam negeri atau luar negeri dalam satu kategori yang sama, sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan aplikasi buatan luar negeri.  Ini membuktikan bahwa di mata penduduk Indonesia, Aplikasi buatan luar negeri masih lebih dipercaya.

 

Penyebab Aplikasi Lokal Dianggap Kalah dari Aplikasi Global

Ada beberapa penyebab mengapa hal ini terjadi.

Pertama, masalah biaya. Aplikasi buatan luar negeri biasanya adalah milik perusahaan besar sehingga mereka tidak mengalami kesulitan untuk masalah biaya. Dengan modal yang besar, mereka berani untuk mencoba hal yang baru karena walaupun gagal mereka tidak akan jatuh. Lain halnya dengan Aplikasi Indonesia yang memiliki biaya yang terbatas. Apabila mereka mencoba hal baru dan gagal, maka modal mereka akan habis dan selesai. Hal ini menyebabkan Aplikasi dalam negeri menjadi takut untuk mencoba hal baru sehingga terkesan kurang kreatif.

Kendala-perkembangan-Aplikasi-di-Indonesia
Kendala keuangan dan SDM menghambat pembuatan Apps berkualitas

Kedua, masalah teknologi dan SDM. Kita harus mengakui, Indonesia cukup tertinggal dari negara maju lainnya dalam hal teknologi. Karena itu, terkadang aplikasi buatan Indonesia terlihat lebih sederhana daripada Aplikasi import. Untuk masalah SDM, sebenarnya Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jumlah SDM berkualitas terbanyak di dunia. Sayangnya karena berbagai macam hal, banyak anak bangsa yang berbakat lebih memilih untuk mengembangkan sayapnya di luar negeri.

  Adtech di Indonesia 2019 - Analisis Dari Seorang Industri Insider
Kendala aplikasi Lokal - Kurangnya pengalaman
Kurangnya pengalaman dalam membuat aplikasi menjadi kendala bagi Apps lokal

Ketiga, masalah pengalaman. Menurut Vice President of Engineering Bukalapak Ibrahim Arief, masyarakat Indonesia memiliki talenta yang sama dengan developer Aplikasi luar negeri, yang membedakan hanyalah pengalaman dalam membuat Aplikasi. Saat ini masyarakat Indonesia masih belum memiliki cukup pengalaman dalam membuat Aplikasi. Untungnya, saat ini mulai banyak diadakan kompetisi pembuatan Aplikasi nasional yang bertujuan untuk memberi pengalaman pada para Startup untuk menunjukkan Aplikasi mereka.

Aplikasi Android Buatan Indonesia
Contoh Aplikasi android buatan Indonesia

Hebatnya, walaupun dengan berbagai keterbatasan di atas, Indonesia berhasil mengeluarkan berbagai Aplikasi yang berkelas Internasional. Sebut saja GO-JEK dan Tokopedia. Namun karena bisa dibilang hanya 1 dari 1000 aplikasi Indonesia yang benar-benar sukses, persepsi masyarakat masih belum berubah, yakni Aplikasi import lebih bagus dari Aplikasi lokal.

 

Startup yang Berjuang Membuktikan Kualitas Karya Anak Bangsa

Walaupun banyak orang Indonesia yang memiliki persepsi bahwa Aplikasi luar negeri lebih bagus daripada Aplikasi karya anak bangsa, masih banyak perusahaan lokal yang terus berjuang membuat Aplikasi lokal yang berkualitas sehingga membuktikan bahwa karya bangsa Indonesia tidak kalah dengan karya luar negeri.

DisTime Aplikasi Lokal Indonesia yang Melawan Aplikasi Import
Salah satu contoh Aplikasi Lokal yang berusaha melawan dan mengungguli aplikasi sejenis dari luar negeri

Salah satu Aplikasi Startup buatan Indonesia yang melakukan perjuangan ini adalah adalah DisTime. DisTime adalah Aplikasi lokal karya anak bangsa yang bersaing dalam kategori penyedia promosi dan diskon dengan sejumlah Aplikasi Global lainnya. Beberapa contoh Aplikasi Import yang menjadi saingan DisTime adalah Groupon (Fave) dari Amerika, Big Dish dari Filipina, dan Zomato dari India.

Dimulai dari dua pendiri yang ambisius, Diana dan Elin, DisTime berhasil meraih lebih dari 5000 downloader dan pengguna sejak pertama kali berdiri di awal tahun 2017. Ratusan Restoran, Tempat Perawatan Kecantikan, dan Tempat Hiburan di Jabodetabek berhasil diajak bekerja sama oleh DisTime.

  3 Tips dari Startup Insider: Bagaimana Bertumbuh dan Sukses Bekerja di Perusahaan Startup
Berbagai-Kategori-Service-yang-ada-Dalam-DisTime
Tampilan Aplikasi DisTime dan Service yang ditawarkan

Saat ini DisTime masih beroperasi di daerah Jabodetabek, tapi di awal 2018 DisTime akan mulai mengembangkan daerah operasional ke kota kota besar di Pulau Jawa, seperti Bandung dan Surabaya. Untuk ke depannya, DisTime mempunyai visi untuk menjangkau semua daerah di Indonesia hingga tempat-tempat pelosok.

Dalam soal kualitas Aplikasi dan Diskon, DisTime tidak kalah dengan berbagai Aplikasi luar negeri yang disebutkan diatas. Hal ini karena DisTime telah melakukan penelitian mendalam tentang bisnis di Tanah Air tentang apa saja kelebihan, kekurangan, dan hal yang dapat diperbaiki dalam bisnis di Indonesia. Sebagai Tuan Rumah, DisTime memanfaatkan keunggulan kandang dan membuat Aplikasi yang bertujuan khusus untuk membantu bisnis di Indonesia.

Keunikan-dan-Keunggulan-DisTime-dibandingkan-Aplikasi-Importt
Konsep yang ditawarkan oleh DisTime untuk bersaing dengan kompetitor dari luar negeri

DisTime menjadi salah satu bukti bahwa kualitas Aplikasi anak bangsa Indonesia tidak kalah dengan buatan luar negeri. Dalam beberapa tahun ke depan, dapat dipastikan bahwa DisTime akan menjadi salah satu Aplikasi dari Indonesia yang sukses seperti GO-JEK dan Tokopedia.

Please rate this

Please Login to comment