fbpx
Trentech.id

Era Minimum Viable Product Telah Mati, Saatnya Beralih ke Riskiest Assumption Test

Istilah Minimum Viable Product atau MVP memiliki cacat dalam definisinya, yaitu penggunaan kata “produk”. MVP bukanlah produk. MVP adalah sebuah cara testing untuk mengetahui apakah masalah yang kamu angkat layak diselesaikan, sekaligus cara meminimalkan risiko dan mengetes asumsi sebelum implementasi riil.

Daripada menjalankan MVP, lebih baik kamu mengidentifikasi suatu asumsi yang memiliki risiko terbesar, kemudian mengujinya. Proses ini disebut Riskiest Assumption Test atau RAT, dan mengganti MVP dengan RAT bisa membuat hidupmu jadi lebih mudah.

Salah kaprah tentang MVP yang sering terjadi

MVP sudah terlalu sering digunakan, sampai-sampai istilah ini jadi melenceng dari makna aslinya. Sering kali yang dimaksud MVP adalah versi perdana dari sebuah produk yang belum sempurna. Hasilnya, MVP jadi terlalu kompleks untuk digunakan sebagal alat uji coba cepat—sebagaimana tujuan awalnya—tapi juga terlalu jelek untuk dijadikan produk siap dirilis.

MVP terlalu sering digunakan sampai melenceng dari makna aslinya

Khawatir akan hasil produk yang kurang baik, developer biasanya kemudian membuat Minimum Valuable Product atau Minimum Lovable Product untuk mengatasinya. Ini cara pandang yang salah, sebab mereka jadi menghabiskan terlalu banyak sumber daya untuk menguji asumsi yang berisiko tinggi, dan makin terlambat mendapat pelajaran dari konsumen riil.

Minimum Viable Test terkadang digunakan sebagai usaha untuk membuat iterasi-terasi kecil sebelum produk dirilis. Proses ini gagal menjawab dua pertanyaan penting, yaitu apa yang kamu tes dan mengapa kamu melakukan testing. Kata “minimum” juga punya takaran yang ambigu. Eric Ries, penulis buku The Lean Startup, ketika ditanya seberapa minimum MVP yang perlu dibuat, menjawab dengan, “Mungkin jauh lebih minimum dari yang kamu kira.”

  Buat CV Online Cepat dan Praktis dengan BikinCV

RAT tak sekadar meminimalkan, tapi mengurangi secara drastis

Dibanding MVP, RAT lebih eksplisit. Kamu tidak perlu membangun lebih dari apa yang dibutuhkan untuk mengetes risiko terbesar, tidak ada tuntutan akan desain dan kode program yang sempurna, dan tidak perlu khawatir kamu akan menghasilkan sebuah produk secara prematur.

MVP menggoda kita dengan kepastian palsu akan jalur yang jelas dan lurus menuju solusi optimal. Sementara RAT justru menempatkan fokus pada pembelajaran. RAT seperti lilin di kegelapan yang membantu kita bergerak maju selangkah demi selangkah. Setelah bisa memvalidasi asumsi yang paling berisiko, kamu bisa maju ke asumsi berikutnya, dan sedikit demi sedikit membangun rasa percaya diri bahwa idemu dapat berhasil.

Kunci proses RAT terletak pada tes yang kecil dan cepat. Apa eksperimen terkecil yang bisa kamu lakukan untuk mengetes asumsi terbesar? Seperti dipaparkan oleh Tom Chi, co-founder Google X, “Memaksimalkan pembelajaran dengan cara meminimalkan waktu yang diperlukan untuk mencoba hal baru.”

Bukan sekadar meminimalkan, tapi benar-benar menguranginya secara drastis. Prototipe untuk ide kompleks seperti Google Glass pun dibuat hanya dalam satu hari!

Cara menemukan asumsi dasar untuk proses RAT

Mengidentifikasi asumsi dasar butuh banyak energi dan kedisiplinan mental. Pandanglah setiap kejadian sebagai masalah konsumen, lalu telusuri ke belakang.

Kondisi seperti apa yang memunculkan kejadian tersebut? Kumpulkan setiap asumsi dan bertanyalah, “Apa asumsi yang menjadi latar belakangnya?” Ulangi terus sampai kamu mencapai asumsi yang paling dasar. Proses ini mirip seperti teknik 5 Whys—penelusuran secara mundur untuk mengidentifikasi asumsi di balik tiap masalah.

Di sini, kamu setidaknya sudah memiliki gambaran jelas tentang hal-hal penting yang tadinya tidak kamu ketahui, dan gambaran jelas tentang RAT seperti apa yang kamu perlukan.

  Bagaimana AI Mengubah Smart City

Mulai setiap ide baru dengan RAT

Hal ini tidak hanya berlaku di startup, justru mungkin malah lebih krusial di perusahaan yang sudah mapan. Ketika kamu sudah beroperasi dengan sukses selama bertahun-tahun, kamu bisa terjebak dalam perasaan aman.

Ini berbahaya, karena kamu jadi rentan terhadap inovasi perusahaan saingan, dan bisa-bisa malah membuang uang untuk membangun produk yang tidak diminati. Sementara itu para pesaingmu berhasil menemukan pekerjaan yang tepat untuk dilakukan, dan membuat produk yang sesuai kebutuhan masyarakat. Perlahan-lahan, mereka mencuri pelangganmu.

RAT di perusahaan yang sudah mapan memiliki tantangan yang berbeda. Keterbatasan startup mendorong para pegiatnya berpikir secara cermat, cocok dengan cara kerja RAT. Tapi dengan sumber daya melimpah, sepertinya konsekuensi yang kita terima lebih kecil ketika menjalankan proyek besar tanpa validasi terlebih dahulu.

RAT perlu pola pikir yang berbeda, dan kadang-kadang bisa menyulitkan para engineer, desainer, atau manajer produk yang sudah menduduki posisi tetap. Profesionalisme akan mendorong mereka untuk membuat produk yang sempurna, dengan fitur lengkap dan kode yang terpoles rapi. Tapi bila produkmu tidak dibutuhkan orang, tidak ada artinya meski produk itu punya kualitas tampilan indah atau kode yang sempurna.

Maksimalkan penemuan

RAT memprioritaskan pekerjaan-pekerjaan penting untuk memvalidasi ide dengan cepat. RAT menghilangkan godaan untuk membuat produk setengah jadi yang tidak sempurna, tapi bukan berarti prosesnya mudah.

Kamu harus selalu sigap, dan waspada akan terjadinya perluasan ruang lingkup. Seluruh tim harus terus saling bertanya, “Apakah ini benar-benar hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk menguji asumsi yang paling berisiko?” [tia/ap]

Angga Permana

Kontributor Trentech.id dan technical lead Trentech.id

Please Login to comment